Senin, 28 Oktober 2013

KONSEP SEHAT-SAKIT (KESMAS)


KONSEP SEHAT-SAKIT

Sehat
1.      Parkins (1938)
Sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
2.      WHO (1957)
Sehat adalah suatu keadaan dan kualitas dari organ tubuh yang berfungsi secara wajar dengan segala faktor keturunan dan lingkungan yang dimiliki.
3.      WHO (1974)
Sehat adalah keadaan yang sempurna dari fisik,mental,sosial,tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
4.      White (1977)
Sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.

Sakit
1.      Perkins (1937)
Sakit adalah suatu keadaan yang tidak menyenangkan yang menimpa seseorang sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari baik aktivitas jasmani,rohani dan sosial.
2.      Reverlly
Sakit adalah tidak adanya keselarasan antara lingkungan dengan individu.
3.      New webster dictionary
Sakit adalah suatu keadaan yang ditandai dengan suatu perubahan gangguan nyata yang normal.

Usaha-Usaha Pokok Kesehatan
Di dalam pelaksanaan usaha-usaha kesehatan melalui kesehatan masyarakat, dikenal istilah yang disebut Usaha-Usaha pokok Kesehatan, yang bertitik tolak pada rumusan definisi Windslow. Berikut ini akan diketengahkan beberapa rumusan tentang usaha-usaha pokok kesehatan yang dikemukakan oleh para ahli kesehatan masyarakat dan lembaga kesehatan dunia, diantaranya adalah :


Emerson
Dikenal dengan Basic Seven Of Emerson, yang rumusannya disampaikan menurut skala prioritas, sebagai berikut:
1.      Kesehatan ibu dan anak
2.      Pengobatan
3.      Kesehatan lingkungan
4.      Penyuluhan kesehatan
5.      Pemeliharaan kesehatan masyarakat
6.      Gizi (nutrisi)
7.      Pemeriksaan laboratorium

WHO
Karena rumusan Basic Seven Of Emerson, Dikatakan cukup sederhana, namun beberapa kegiatan pokok tidak keseluruhannya dapat dilaksanakan di semua Negara, khususnya bagi Negara-negara yang sedang berkembang.
            Dalam menghadapi kenyataan tersebut WHO mencobamerumuskan suatu rumusanstandart yang diharapkan dapat dilaksanakan oleh Negara-negara sedang berkembang terutama oleh unut kesehatan yang paling terendah sekalipu. Skala prioritas usaha-usaha pokok kesehatan WHO adalah sebagai berikut :
1.      Kesehatan ibu dan anak
2.      Pengobatan
3.      Kesehatan lingkungan
4.      Statistic
5.      Pendidikan kesehatan masyarakat
6.      Perawatan kesehatan masyarakat
7.      Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
Rumusan Tujuh usaha kesehatan pokok WHO sebagai rumusan standar secara aklamasi dapat diterima sepenuhnya oleh hampir keseluruhan anggota WHO untuk dijadikan suatu kebijaksanaan secara nasional di bidang pembangunan kesehatan di masing-masing Negara.
Rumusan-rumusan lain yang terdiri dari tujuh usaha pokok kesehatan yang dikemukakan para ahli kesehatan masyarakat dari Indonesia adalah : Tujuh usaha pokok kesehatan dari Prof. Sajono, Bagiastra dan Achmad dan Duabelas usaha pokok dari Sulianti, dan secara nasional ditetapkan tujuh belas usaha-usaha pokok kesehatan nasional.

Basic Seven Sajono
1.      Kesehatan ibu dan anak
2.      Pengobatan
3.      Kesehatan lingkungan
4.      Statistic
5.      Pencegahan penyakit menular
6.      Perawatan kesehatan masyarakat
7.      Laboratorium
Basic Seven Bagiastra
1.      Kesehatan ibu dan anak
2.      Pengobatan
3.      Kesehatan lingkungan
4.      Statistic
5.      Pemberantasan penyakit menular
6.      Pendidikan kesehatan
7.      Laboratorium
Basic Seven Achmad
1.      Kesehatan ibu dan anak
2.      Pemeliharaan kesehatan masyarakat
3.      Pemberantasan penyakit menular
4.      Sanitasi
5.      Gizi
6.      Statistic
7.      Laboratorium
Basic Twelve Sulianti
1.      Kesehatan ibu dan anak dan keluarga berencana
2.      Pengobatan dan perawatan
3.      Sanitasi
4.      Perawatan kesehatan masyarakat
5.      Penyulihan kesehatan
6.      Pemberantasan penyakit menular
7.      Gizi
8.      Usaha kesehatan sekolah
9.      Laboratorium
10.  Statistik
11.  Pendidikan atau penataran tenaga kesehatan
12.  Kesehatan-kesehatan khusus dengan luang lingkup yang lebih luas disesuaikan dengan perkembangan kemampuan dan kondisi yang akan datang.

            Beberapa puskesmas di jawa telah dapat melaksanakan 12 uasaha kesehatan pokok dari sulianti. Dan untuk daerah-daerah tertentu sudah berkembang mencapai 17 usaha-usaha pokok kesehatan terutama di kota-kota besar seperti jakarta.

Usaha-usaha kesehatan pokok nasional
Dalam program kesehatan nasional usaha kesehatan masyarakat meliputi 17 usaha kesehatan pokok, yaitu :
1.      Pencegahan dan pembrantasan penyakit menular
2.      Kesehatan ibu dan anak
3.      Higiene sanitasi lingkungan
4.      Usaha kesehatan sekolah
5.      Usaha kesehatan gigi
6.      Usaha kesehatan mata
7.      Usaha kesehatan jiwa
8.      Pendidikan kesehatan masyarakat
9.      Usaha kesehatan gizi
10.  Pemeriksaan, pengobatan,perawatan
11.  Perawatan kesehatan masyarakat
12.  Keluarga berencana
13.  Rehabilitasi
14.  Usaha-usaha farmasi
15.  Laboratorium
16.  Statistik kesehatan
17.  Administrasi usaha kesehatan masyarakat

Dewasa ini usaha pokok kesehatan yang dilaksanakan di puskesmas sangat bervariasi
Tergantung pada kemampuan tenaga maupun fasilitas yang tersedia. Pemerintah dewasa ini telah menetapkan 20 usaha kesehatan pokok puskesmas, sebagai berikut
1.      Kesahatan ibu dan  anak
2.      Keluarga berencana
3.      Usaha kesehatan gizi
4.      Kesehatan lingkungan
5.      Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
6.      Pengobatan termnasuk pelayanan darurat karena kecelakaan
7.      Penyuluhan kesehatan masyarakat
8.      Kesehatan sekolah
9.      Kesehatan olahraga
10.  Perawatan kesehtan masyarakat
11.  Kesehatan kerja
12.  Kesehatan gigi dan mulut
13.  Kesehatan jiwa
14.  Kesehatan mata
15.  Laboratorium sederhana
16.  Pencatatan dan pelaporan dalam rangka sistem informasi kesehatan
17.  Kesehatan usia lanjut
18.  Pembinaan pengobatan tradisional
19.  Kesehatan remaja
20.  Dana sehat



MODEL-MODEL SEHAT SAKIT

Model adalah suatu cara teoritis unutk memahami sebuah konsep atau ide. Karena sehat dan sakit merupakan konsep yang rumit, maka digunakan berbagai model untuk memahami hubungan antara kedua konsep ini dengan sikap klien terhadap kesehatan dan cara pelaksanaan kesehatan.

Keyakinan terhadap kesehatan adalah pendapat, keyakinan dan sikap seseorang terhadap sehat dan sakit. Keyakinan terhadap kesehatan didasarkan pada informasi yang faktual atau kesalahan informasi, pikiran sehat atau mitos, dan kenyataan atau harapan yang salah. Karena keyakinan terhadap kesehatan biasanya mempengaruhi perilaku sehat, maka keyakinan tersebut dapat berpengaruh secara positif maupun negatif terhadap tingkat kesehatan klien. Perilaku sehat yang positif adalah berbagai aktifitas yang berhubungan dengan pemeliharaan, pencapaian atau usaha mendapatkan kembali kondisi kesehatan yang baik dan mencegah penyakit. Perilaku sehat yang positif umumnya terdiri dari imunisasi, pola tidur yang tepat, olahraga yang adekuat, dan nutrisi. Perilaku sehat yang negatif mencakup berbagai aktifitas yang secara aktual dan potensial dapat membahayakan kesehatan, seperti merokok, penyalahgunaan minuman keras atau alkohol, diet yang buruk, dan penolakan untuk menerima pengobatan yang dibutuhkan.

Berbagai model keperawatan membantu mendefinisikan sehat dan memahami perilaku keyakinan klien terhadap kesehatan, sehingga perawat dapat memberikan pelayanan kesehatan yang efektif. Berbagai model ini memungkinkan perawat untuk memahami dan memprediksikan perilaku sehat klien, termasuk bagaimana mereka menggunakan pelayanan kesehatan dan mematuhi terapi yang dianjurkan.

Keyakinan klien terhadap kesehatan tergantung pada beberapa faktor, antara lain persepsi tentang tingkat sehat, faktor-faktor yang dapat dimodifikasi seperti demografi (mis. Jenis dan temoat perumahan), kepribadian, dan persepsi terhadap keuntungan yang dapat diperoleh dari perilaku sehat yang positif. Berbagai model sehat biasanya terdiri dari komponen-komponen ini.

Model rentang sehat-sakit, model sejahtera tingkat tinggi, dan model agens-penjamu-lingkungan menggambarkan hubungan antara sehat dan sakit. Model keyakinan tentang kesehatan menjelaskan dan memprediksikan perilaku sehat klien; model-model yang berbasis evolusioner dan peningkatan kesehatan telah dikembangkan oleh perawat dan berfokus pada peningkatan kesehatan. Model-model ini mewakili berbagai cara pendekatan yang berbeda tahap isu-isu yang kompleks dan cara memahami sikap dan nilai klien terhadap sehat dan sakit.

Continum sehat sakit
 Menurut neuman (1990),’ sehat dalam suatu rentang adalah tingkat sejaterah klien pada waktu tertentu,yang terdapat dalam rentang dari kondisi sejatera yang optimal, dengan energi yang paling maksimum, sampai kondisi kematian, yang menandakan habisnya energi total.’ Menurut model continu sehat sakit ini, sehat adalah sebuah kesehatan yang dinamis yang berubah secara terus menerus sesuai dengan adaptasi individu terhadap berbagai perubahan yang ada di lingkungan internal dan eksternalnya untuk mempertahankan keadaan fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan dan spiritual yang sehat. Sakit adalah sebuah proses dimana fungsi individu dalam satu atau lebih dimensi yang ada mengalami perubahan atau penurunan bila di bandingan dengan kondisi individu sebelumnya. Karna sehat dan sakit merupakan kualitas yang relativ, yang mempunyai beberapa tingkat, maka akan lebih akurat bila sehat dan sakit ditentukan sesuai dengan titik tertentu pada sekala continu sehat sakit, di bandingkan bila keadaan yang absolute dengan ada dan tidak adanya penyakit.
Literatur berguna untuk mendukung pandangan bahwa sehat dan cara pencapaiannya merupakan konsep sentral dan yang menjadi  tujuan dalam pelayanan keperawatan ( pender,1975, 1987, 1990; perse, 1981, 1990,;pender dan pender, 1986;neuman,1989, 1990; meleis, 1990). Seorang perawat dapat menentukan tingkat ksehatan klien pada titik tertentu sesuai dengan rentang sehat sakit. Sejatera tingkat tinggi dan sakit berat merupakan dua titik ujung yang berlawana  yang terdapat rentang, dengan keadaan tertentu diantaranya. Faktor resiko klien merupakan faktor yang penting diperhatikan dalam melakukan identifikasi  tingkat klien, faktor – faktornya mencakup variabel genetic dan psikologis,seperti usia, riwayat keluarga, gaya hidup dan lingkungan. Sesuai dengan kemajuan yang terjadi pada seseorang bedasarkan tahap-tahap perkembangan manusia, faktor resiko yang cenderung terjadi pada diri seseorang. Contohnya, remaja mempunyai kemungkinan yang lebih besar mengalami stresor yang berhubungan dengan citra tubuh dan konsep dirinya bila dibandingkan dengan orang dewasa, atau seseorang dewasa lanjut usia mempunyai  kemungkinan menderita penyakit jantung yang lebih besar dari pada seorang anak kecil.
Cara pandang klien terhadap tingkat kesehatannya tergantung pada sikapnya terhadap kesehatan dan nilai, keyakinan, dan persepsi mereka terhadap kesehatan fisik, emosional, intelektual, sosial, perkembangan, dan spiritual. Perawat dan klien scara bersama-sama menentukan tujuan untuk mencapai tingkat kesehatan klien yanng optimal (meleis, 1990).
Kekurangan dan kontinum sehat sakit ini adalah sulitnya menentukan tingkat kesehatan klien sesuai dengan titik tertentu yang ada diantara dua titik ekstrem pada kontinum. Contoh, apakah seseorang yang menderita fraktur kaki tapi ia mampu beradaptasi dengan keterbatasan mobilitas,  dianggap lebih sehat atau kurang sehat daripada seseorang yang punya fisik yang sehat tapi mengalami depresi berat setelah kematian pasangannya. Model ini akan menjadi efektif bila digunakan untuk membandingkan tingkat kesehatan klien saat ini dengan tingkat kesehatan sebelumnya. Kemudian model ini juga akan bermanfaat saat perawat membantu klien menentukan tujuan untuk mencapai tingkat kesehatan yang baik di masa  yang akan datang.




MODEL HL BLUM

Hendrik L. Blum mengatakan bahwa ada empat faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan.
Lebarnya dari anak panah menunjukan besarnya peranan dan kepentingan dari berbagai faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat. Pada gambar menunjukkan bahwa lingkungan mempunyai pengaruh dan peranan terbesar diikuti perilaku, fasilias kesehatan dan keturunan. Lingkungan sangat bervariasi, umumny digolongkan menjadi tiga katagori, yaitu yang berhubungan dengan aspek fisik : sampah, air udara, tanah, iklim, perumahan dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan hasil interaksi antar manusia dengan manusia lainnya, seperti kebudayaan, pendidikan, ekonomi dan sebagainya.
Perilaku merupakan faktor kedua mempengaruhi derajat kesehatan individu, keluarga masyarakat, karena sehat / tidak sehatnya lingkungan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat – masyarakat sangat tergantung pada perilaku manusia itu sendiri, disamping itu juga dipengaruhi oleh kebiasaan, adat istiadat, kepercayaan, pendidikan, sosial ekonomi, dan perilaku-perilaku lainnya yang melekat pada dirinya.
Pelayanan kesehatan merupakan faktor ketiga yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat, karena keberadaan fasilitas kesehatan sangat menentukan dalam pelayanan pemulihan kesehatan. Ketersediaan fasilitas sangat dipengaruhi oleh lokasi, apakah dapat dijangkau oleh masyarakat atau tidak, tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan, informasi dan motivasi masyarakat untuk mendatangi fasilitas dalam memperoleh pelayanan kesehatan itu sendiri apakah sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang memerlukannya.
Sedangkan faktor keturunan (genetik) merupakan faktor yang telah ada dalam diri manusia yang dibawa sejak lahir, misalnya dari golongan penyakit  keturunan, diantaranya diabetes melitus, asma bronkial, dan sebagainya.
Keempat faktor tersebut merupakan faktor-faktor yang saling menunjang dan pengaruh mempengaruhi satu dengan yang lainya, sehingga berdampak buruk terhadap status kesehatan individu, keluarga dan kelompok dan masyarakat secara keseluruhan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar