Senin, 28 Oktober 2013

KEKURANGAN ENERGI PROTEIN (KESMAS)

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Masalah gizi pada hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifactor, karena itu penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait. Secara umum masalah gizi di Indonesia, terutama KEP masih lebih tinggi dari pada negara ASEAN lainnya.
KEP merupakan salah satu masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena defisiensi macro nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP.
Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KEP adalah konsumsi yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada balita, KEP timbul pada anggota keluarga rumahtangga miskin oleh karena kelaparan akibat gagal panen atau hilangnya mata pencaharian kepala keluarga.. Marasmus sering dijumpai pada anak < 1 tahun, di daerah urban, sedangkan kwasiorkor sering dijumpai pada usia > 2 tahun di daerah yang kumuh dan padat penduduk.
KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi, yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi.
Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan nutrisi.Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (-2SD–3SD), maka terjadilah kwashiorkor
Berdasarkan uraian tersebut, maka tulisan ini mencoba menjelaskan kekurangan karbohidrat dan protein pada kejadian gizi buruk balita.






PEMBAHASAN

1.  GIZI BURUK PADA BALITA
Penyakit Gizi Buruk Menyerang Balita dan Anak-Anak, Kasus gizi buruk umumnya menimpa balita dengan latar belakang ekonomi lemah. Beragam masalah malnutrisi banyak ditemukan pada anak-anak dari kurang gizi hingga busung lapar.Menurut UNICEF saat ini adasekitar 40 % anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderitagizi buruk. Betapa banyaknya bayi dan anak-anak yang sudah bergulat dengan kelaparan dan penderitaan sejak merekadilahirkan.Penyebab utama gizi buruk tidak satu. Ada banyak!. Penyebab utama kasus gizi buruk diIndonesia tampaknya karena masalah ekonomi atau kurang pengetahuan. Kemiskinanmemicukasus gizi buruk, kemiskinan dan ketidakmampuan orang tua menyediakan makanan bergizi bagianaknya menjadi penyebab utama meningkatnya korban gizi buruk di Indonesia. Dan juga faktor alam, manusiawi ( kultur social masyarakat setempat ), pemerintah, dan lain ±lain.Persoalan gizi buruk masih menghantui sebagian warganya. Bagaimana bisa di erasekarang,masih dijumpai ribuan, dan ratusan ribu anak balita, yang menjadi pemegang masadepanIndonesia menderita gizi buruk. Ketidak seriusan pemerintah terlihat jelas ketika penanganankasus gizi buruk terlambat seharusnya penanganan pelayanan kesehatan dilakukandisaat penderita gizi buruk belum mencapai tahap membahayakan. Setelah kasus gizi buruk merebak barulah pemerintah melakukan tindakan ( serius ). Keseriusan pemerintahmencanangkanGerakan Penanganan Diare dan Gizi Buruk sejak Juli 2007 lalu disusul denganGerakanKedaulatan Pangan yang akan dicanangkan April 2008, keseriusan pemerintah tidak adaartinyaapabila tidak didukung masyarakat itu sendiri. Sebab, perilaku masyarakat yang sudah membudaya selama ini adalah, anak-anak yang menderita penyakit kurang mendapatkan perhatian orang tua. Anak-anak itu hanya diberi makan seadanya, tanpa peduli akan kadar gizi dalam makanan yang diberikan. Apalagi kalau persediaan pangan keluarga sudah menipis.Gizi buruk akut atau busung lapar menurut Sensus WHO menunjukkan 49% dari 10,4 jutakematian yang terjadi pada anak dibawah lima tahun di negara berkembang. Kasuskekurangangizi tercatat sebanyak 50% anak-anak di Asia, 30% anak-anak Afrika, dan 20% anak-anak diAmerika Latin. Dari kondisi tubuh balita yang menderita gizi buruk memiliki berat badandi bawah rata-rata, berat badan/umur Balita < 60 persen berada di bawah garis merah sehingga tergolong Kekurangan Energi ;Protein (KEP) berat. Ciri-ciri yang mudah terdekteksi pada tanda marasmus.Komponen biologi yang melatar belakangi KKP antara lain malnutrisi ibu, penyakit infeksi, dandiet rendah energi & protein.Seorang ibu yang mengalami KKP selama kurun waktu tersebut pada gilirannya akan melahirkan bayi berberat badan rendah. Kurang Kalori Protein (KKP) akanterjadi manakala kebutuhantubuh akan kalori, protein, atau keduanya, tidak tercukupi oleh diet.Sindrom kwasiorkor terjelma manakala defisiensi menampakan dominasi protein, dan maramustermanifestasi jikaterjadi kekurangan energi yang parah. Kombinasi kedua bentuk ini marasmik kwasiorkor, jugatidak sedikit. Malnutrisi Primer Penyebab gizi buruk di daerah pedesaan ataudaerah miskin lainnya sering disebut malnutrisi primer, yang disebabkan karena masalahekonomi, rendahnya pengetahuan, dan kurangnyaasupan gizi. Gejala kinis malnutrisi primer sangat bervariasi tergantung derajat dan lamanyakekurangan energi dan protein, umur penderita dan adanya gejala kekurangan vitamindanmineral lainnya. Kasus tersebut sering dijumpai pada anak usia 9 bulan hingga 5tahun.Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari kenaikkan berat badan terhenti ataumenurun,ukuran lengan atas menurun,


pertumbuhan tulang (maturasi) terlambat, perbandingan beratterhadap tinggi menurun. Gejala dan tanda klinis yang tampak adalah anemia ringan,aktifitas berkurang, kadang di dapatkan gangguan kulit dan rambut.Malnutrisi

2.  Defisiensi Karbohidrat dan Protein pada Kejadian Gizi Buruk Balita
 Interaksi antara faktor-faktor keberadaan zat gizi (faktor penyebab), cadangan zat gizi dalam tubuh, penyakit infeksi, infestasi cacing, aktifitas (faktor penjamu), pantangan, cara pengolahan (faktor lingkungan)  sangat penting dipertahankan dalam keadaan seimbang  dan optimal. Bila keseimbangan ini tidak terjaga  maka akan terjadi perubahan dalam tubuh, yakni terjadinya pemakaian cadangan zat gizi yang tersimpan dalam tubuh.
 Bila hal ini berlangsung lama maka berangsur-angsur cadangan tubuh akan berkurang dan akhirnya akan habis. Hal tersebut dilakukan untuk mempertahankan metabolisme kehidupan sehari-hari. Diawali dengan terjadinya mobilisasi zat-zat gizi yang berasal dari jaringan tubuh. Sebagai akibat hal tersebut, tubuh akan mengalami penyusutan jaringan tubuh, kelainan metabolisme oleh karena kekurangan zat-zat gizi, kelainan fungsional, dan akhirnya kerusakan organ tubuh dengan segala keluhan, gejala-gejala dan tanda-tanda yang timbul sesuai dengan jenis zat gizi yang menjadi pangkal penyebabnya, bila protein penyebabnya akan terjadi kwasiorkor, bila energi penyebanya akan terjadi marasmus atau keduanya sebagai penyebab akan terjadi marasmus kwasiorkor.
         Dimulai dengan perubahan yang paling ringan sampai berat, dimulai hanya dengan kekurangan cadangan zat gizi (belum ada perubahan biokemik dan fisiologi), kelainan gizi potensial (sudah ada perubahan biokemik dan fisiologi), kelainan gizi laten (gejala, dan tanda klinis masih terbatas dan belum khas) sampai terjadi kelainan gizi klinik (gejala, dan tanda klinis khas dan jelas).
Malnutrisi sekunder disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan nutrisi.Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (-2SD–3SD), maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi akut/decompensated malnutrition).
3.  Secara klinis KEP terdapat dalam 3 tipe yaitu :
3.1 Marasmus
Marasmus sering sekali terjadi pada bayi di bawah 12 bulan. Terdapat beberapa tanda khusus pada marasmus ialah kurangnya (bahkan tidak ada) jaringan lemak di bawah kulit . sehingga seperti bayi yang memakai pakaian yang terlalu besar ukurannya. Selain itu terdapat pula beberapa tanda khusus bayi terkena marasmus, diantaranya:
·         Bayi akan merasa lapar dan cengeng.
·         Oedema (bengkak) tidak terjadi ( Escoda, S., H. Chappuy, et al. 2010)
·         Warna rambut tidak berubah.
·         Wajahnya tampak menua (old man/monkey face).
·         Atrofi jaringan, otot lemah terasa kendor/lembek ini dapat dilihat pada paha dan pantat bayi yang seharusnya kuat dan kenyal dan tebal.
Pada marasmus tingkat berat, terjadi retardasi pertumbuhan, berat badan dibanding usianya sampai kurang 60% standar berat normal. Sedikitnya jaringan adipose pada marasmus berat tidak menghalangi homeostatis, oksidasi lemak tetap utuh namun menghabiskan cadangan lemak tubuh. Keberadaan persediaan lemak dalam tubuh adalah faktor yang menentukan apakah bayi marasmus dapat bertahan/survive.
3.2 Kwashiorkor
Kwashiorkor bisanya terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Pertumbuhannya terhambat, jaringan otot lunak dan kendor  Namun jaringan lemak dibawah kulit masih ada dibanding bayi marasmus. Beberapa tanda khusus dari kwashiorkor adalah:
·         Rambut berubah menjadi warna kemerahan atau abu-abu, menipis dan mudah rontok, apabila rambut keriting menjadi lurus.
·         Kulit tampak pucat dan biasanya disertai anemia.
Selalu ada oedema (bengkak), terutama pada kaki dan tungkai bawah. Sifatnya “pitting oedema”. Bayi tampak gemuk, muka membulat (moon face), karena oedema. Cairan oedema sekitar 5-20% dari jumlah berat badan yang diperhitungkan dari penurunan berat badan ketika tidak oedema lagi (pada masa penyembuhan).
Terjadi dispigmentasi dikarenakan habisnya cadangan energi atau protein. Pada kulit yang terdapat dispigmentasi akan tampak pucat. Sering terjadi dermatitis (radang pada kulit). Kulit mudah luka karena tidak adanya tryptophan dan nicotinamide, meskipun kekurangan zinc bisa juga menjadi penyebab dermatitis. Pada kasus kwashiorkor tingkat berat kulit akan mengeras seperti keripik terutama pada persendian utama. Bibir retak-retak, lidah pun menjadi lunak dan gampang luka.
Pada kwashiorkor, pengaruh terhadap sistem neurologi dijumpai adanya tremor seperti Parkinson yang berpengaruh terhadap jaringan (cabang) syaraf tunggal maupun syaraf kelompok pada otot. Seperti otot mata sering terjadi terus berkedip, atau pada pita suara yang menghasilkan suara getar serak/cengeng.
3.3 Marasmik – Kwashiorkor
Anak/bayi yang menderita marasmik-kwashiorkor mempunyai gejala (sindroma) gabungan kedua hal di atas. Seorang bayi yang menderita marasmus lalu berlanjut menjadi kwashiorkor atau sebaliknya tergantung dari makanan/gizinya dan sejauh mana cadangan energi dari lemak dan protein akan berkurang/habis terpakai.
Pengaruh KEP Terhadap Beberapa Organ Saluran Pencernaan
Malnutrisi berat menurunkan sekresi asam dan melambatkan gerak lambung. Mukosa usus halus mengalami atrofi. Vili pada mukosa usus lenyap, permukaannya berubah menjadi datar dan diinfiltrasi oleh sel-sel limfosit. Pembaruan sel-sel epitel, indeks mitosis, kegiatan disakarida berurang. Pada hewan percobaan, kemampuan untuk mempertahankan kandungan normal mucin dalam mukosa terganggu dan laju penyerapan asam amino serta lemak berkurang.
3.3.1 Pankreas
Malnutrisi menyebabkan atrofi dan fibrosis sel-sel asinar yang akan mengganggu fungsi pankreas sebagi kelenjar eksokrin. Gangguan fungsi pankreas bersama dengan intoleransi disakarida akan menimbulkan sindrom malabsorpsi, yang selanjutnya berlanjut sebagai diare.
3.3.2 Hati
Pengaruh malnutrisi pada hati bergantung pada lama, serta jenis zat gizi yang berkurang. Glikogen pada penderita marasmus cepat sekali terkuras sehingga zat lemak kemudian tertumpuk dalam sel-sel hati. Manakala kelaparan terus berlanjut, hati mengerut sementara kandungan lemak menyusut dan protein habis meskipun jumlah hepatosit relative tidak berubah.
4.  Sistem Hematologik
Perubahan pada sistem hematologic meliputi anemia, leucopenia, trombotopenia, pembentuan akantosit, serta hipoplasia sel-sel sumsum tulang yang berkaitan dengan transformasi substansi dasa, tempat nekrosis sering terlihat. Derajat kelainan ini bergantung pada berat serta lamanya kekurangan energy berlangsung (Sunita Matsier, 2009)
Anemia pada kasus demikian biasanya bersifat normokromik dantidak disertai oleh retikulositosis meskipun cadangan zat besi cukup adekuat. Penyebab anemia pasien yang asupan proteinnya tidak adekuat ialah menurunnya sintesis eritropoietin, sementara anemia pada mereka yang sama sekali tidak makan protein timbul karena stem cell dalam sumsum tulang tidak berkembang, di samping sintesis eritropoietin juga menurun (Sunita Matsier, 2009).
Malnutrisi berat berkaitan dengan leucopenia dan hitung jenis yang normal. Morfologi neutrofil juga kelihatan normal. Namun, jika infeksi terjadi, jumlah neutrofil biasanya (namun tidak selalu) meningkat. Simpanan neutrofil yang dinyataan sebagai hitung neutrofil tertinggi setelah 3-5 jam pemberian hidrokortison pada malnutrisi juga berkurang, dan fungsinya tidak normal. Sebagai tambahan, jumlah trombosit turut pula menurun (Sunita Matsier, 2009).
5.  Penanganan dan Pencegahan
       Pengobatan terhadap KEP adalah ditujukan untuk menambah zat gizi yang kurang, namun dalam prosesnya memerlukan waktu dan harus secara bertahap, oleh karenanya harus di rawat inap di rumah sakit. Secara garis besar penanganan KEP adalah sebagai berikut :
1.  Pada tahap awal harus diberikan cairan intra vena, selanjutnya dengan parenteral dengan bertahap, dan pada tahap akhir dengan diet tinggi kalori dan tinggi protein.
2.  Komplikasi penyakit penyerta seperti infeksi, anemia, dehidrasi dan defiseiensi vitamin diberikan secara bersamaan.
3.  Penanganan terhadap perkembangan mental anak melalui terapi tumbuh kembang anak.
4.  Penanganan kepada keluarga, melalui petunjuk terapi gizi kepada ibu karena sangat penting pada saat akan keluar rumah sakit  akan mempengaruhi keberhasilan penanganan KEP di rumah.
Pencegahan dari KEP pada dasarnya adalah bagaimana makanan yang seimbang dapat dipertahankan ketersediannya di masyarakat. Langkah- langkah nyata yang dapat dilakukan untuk pencegahan KEP adalah :
a.  Mempertahankan status gizi anak yang sudah baik tetap baik dengan menggiatkan kegiatan surveilance gizi di institusi kesehatan terdepan (Puskesmas, Puskesmas Pembantu).
b.  Mengurangi resiko untuk mendapat penyakit, mengkoreksi konsumsi pangan bila ada yang kurang, penyuluhan pemberian makanan pendamping ASI.
c.  Memperbaiki/mengurangi efek penyakit infeksi yang sudah terjadi supaya tidak menurunkan status gizi.
d.  Merehabilitasi anak yang menderita KEP pada fase awal/BGM.
e.  Meningkatkan peran serta masyarakat dalam program keluarga berencana.
f.  Meningkatkan status ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan segala sektor ekonomi masyarakat (pertanian, perdagangan, dan lain-lain). 
6.  FAKTOR PENYEBAB GIZI BURUK PADA ANAK BALITA
6.1  Faktor penyebab pola asuh
Pengasuhan anak adalah praktek yang dijalankan oleh orang yang lebih dewasa terhadap anak yang dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan pangan/gizi. Perawatan dasar (termasuk imunisasi, pengobatan bila sakit), rumah atau tempat tinggal yang layak, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, sandang, kesegaran jasmani. Pola pengasuhan anak sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak karena anak yang mendapat perhatian lebih baik secara fisik maupun emosional keadaan gizinya lebih baik dibandingkan dengan teman sebayanya yang kurang mendapat perhatian (Soetjiningsih, 2008).  Hasil penelitian tentang pola asuh orang tua terhadap kejadian gizi buruk disajikan pada tabel berikut.
screenshotHubungan faktor penyebab pola asuh dengan kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari


Tabel 1, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 19 responden (76%) memiliki pola asuh yang buruk. Sedangkan dari 25 sampel kontrol sebagian besar 20 responden (80%) memiliki pola asuh yang baik. Hasil uji statistik di dapatkan nilai  = 0,000 dengan demikian nilai  lebih kecil dari  = 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 12,67 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (0,02) dan Upper Limit (0,32) > 1. Hal ini berarti bahwa balita dengan pola asuh yang buruk berisiko mengalami kejadian gizi buruk 12,67 kali dibanding dengan balita yang memiliki pola asuh yang baik. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang pola asuhnya buruk, berpeluang 12,67 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding dengan balita yang pola asuhnya baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pola asuh merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.
Berdasarkan hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara pola asuh dengan kejadian gizi buruk pada anak balita.Hasil wawancara peneliti bahwa responden masih kurang baik dalam mengasuh balita, sehingga perlu adanya pengawasan yang lebih dalam mengasuhnya. Pengasuhan anak adalah praktek yang dijalankan oleh orang yang lebih dewasa terhadap anak yang dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan pangan/gizi. Perawatan dasar (termasuk imunisasi, pengobatan bila sakit), rumah atau tempat tinggal yang layak, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, sandang, kesegaran jasmani. Pola pengasuhan anak sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak karena anak yang mendapat perhatian lebih baik secara fisik maupun emosional keadaan gizinya lebih baik dibandingkan dengan teman sebayanya yang kurang mendapat perhatian (Soetjiningsih, 2008).
Menurut Moehji (2002) bahwa pengasuhan yang baik sangat baik untuk dapat menjamin tumbuh kembang anak yang optimal, misalnya keluarga miskin dimana ketersediaan pangan dirumahnya belum tentu mencukupi, ibu yang tahu mengasuh anak dapat memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk dapat menjamin tumbuh kembang anak yang optimal.      Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Quaria (2008) yang menyatakan bahwa pola asuh merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di Puskesmas Alliritengae Kecamatan Turikale Kabupaten Maros.     Penyebab rendahnya pola asuh pada anak yaitu karena kesibukkan dari orang tua yang mengasuh tanpa memperhatikan anak dalam bermain di rumah maupun di luar rumah, maka anak tidak terkontrol baik makan maupun kebutuhan yang lainnya. Sehingga gizi buruk pada anak dapat terjadi.
6.2  Faktor Penyebab Pendapatan Keluarga
Pendapatan yang rendah dapat mempengaruhi pemenuhan bahan makanan terutama makanan yang bergizi. Keterbatasan ekonomi berarti ketidak mampuan daya beli keluarga yang berarti tidak mampu membeli bahan makanan yang berkualitas baik, maka pemenuhan gizi pada balitanya akan terganggu. Di negara seperti indonesia yang jumlah pendapatan penduduk sebagian besar adalah golongan rendah dan menengah akan berdampak kepada pemenuhan bahan makanan terutama makanan bergizi. Keterbatasan ekonomi yang berarti ketidakmampuan daya beli keluarga yang berarti tidak mampu membeli bahan makanan yang berkualitas baik, maka pemenuhan gizi pada balitanya juga akan terganggu. Hasil penelitian tentang pendapatan keluarga terhadap kejadian gizi buruk disajikan pada tabel berikut.
screenshotHubungan faktor penyebab pendapatan keluarga dengan kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari


Tabel 3, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 20 responden (80%) memiliki pengetahuan ibu tentang gizi yang kurang. Sedangkan dari 25 sampel kontrol sebagian besar 21 responden (84%) memiliki pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup. Hasil uji statistik di dapatkan nilai  = 0,000 dengan demikian nilai  lebih kecil dari  = 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 21 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (4,92) dan Upper Limit (89,56) > 1. Hal ini berarti bahwa balita dengan pengetahuan ibu tentang gizi yang kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk 21 kali dibanding dengan balita yang memiliki pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang pengetahuan ibu tentang gizi yang kurang, berpeluang 21 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding dengan balita yang pengetahuan ibu tentang gizi cukup. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Berdasarkan hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian gizi buruk pada anak balita. Hasil wawancara peneliti bahwa responden masih sangat kurang dalam pengetahuan ibu tentang gizi, maka perlu lebih banyak membaca baik di media cetak maupun menonton televisi. Sehingga ibu lebih tahu tentang gizi yang baik untuk anak.
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Yulianty (2008) yang menyatakan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di Kecamatan Mandonga Kota Kendari. Pengetahuan ibu tentang gizi yang rendah pada responden, berisiko mangalami gizi buruk pada balita 6,2 kali jika dibandingkan dengan pengetahuan ibu tentang gizi yang cukup pada responden.   Menurut Soekirman (2000) bahwa pengetahuan ibu tentang gizi berpengaruh terhadap konsumsi pangan keluarga yang pada akhirnya akan mempengaruhi status gizi keluarga tersebut. Namun demikian pengetahuan ibu tentang gizi adalah faktor yang berpengaruh.   Penyebab rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi yaitu karena latar belakang pendidikan yang masih sangat kurang, sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan seorang ibu.
6.3   Faktor Penyebab Asupan Energi
Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang. Anak yang menderita gizi buruk terjadi karena tidak terpenuhinya angka kecukupan gizinya yang disebabkan oleh rendahya konsumsi energi dan protein sehari-harinya. Memberikan makanan yang bergizi juga tidak selalu identik dengan memberikan makanan yang mahal dan tidak terjangkau. Banyak makanan yang sehat dibuat dengan mudah tanpa membutuhkan biaya yang besar. Hasil penelitian tentang  asupan energi terhadap kejadian gizi buruk disajikan pada tabel berikut.
Hubungan faktor penyebab asupan energi dengan kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari
screenshot


     
Tabel 4, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 19 responden (76%) memiliki asupan energi yang kurang  Sedangkan dari 25 sampel kontrol sebagian besar 17 responden (68%) memiliki asupan energi yang cukup.   Hasil uji statistik di dapatkan nilai  = 0,002 dengan demikian nilai  lebih kecil dari  = 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 6,79 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (1,99) dan Upper Limit (23,36) > 1. Hal ini berarti bahwa balita dengan asupan energi yang kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk 6,79 kali dibanding dengan balita yang memiliki asupan energi yang cukup. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang memiliki asupan energi yang kurang berpeluang 6,79 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding dengan balita yang memiliki asupan energi yang cukup. Sehingga disimpulkan bahwa asupan energi merupakan faktor penyebab kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.
Berdasarkan hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara asupan energi dengan kejadian gizi buruk pada anak balita. Hasil wawancara peneliti bahwa responden masih sangat kurang dalam pemenuhan asupan energi, maka dalam pemberian makanan tidak perlu yang mahal, cukup memberikan makanan yang sehat dan murah. Sehingga anak mendapatkan asupan makanan yang cukup. Menurut Supariasa (2001) bahwa konsumsi energi yang kurang dalam makanan sehari-hari akan dapat menyebabkan seseorang akan kekurangan gizi pada akhirnya anak yang gizinya baik, lama kelamaan akan menderita gizi buruk. Tingkat konsumsi energi yang cukup akan memberi pengaruh terhadap efisiensi penggunaan protein tubuh. Lebih lanjut menurut Suhardjo (2005) sumber pangan keluarga, terutama mereka yang sangat miskin, akan lebih mudah memenuhi kebutuhan makanannya jika yang harus diberi makan jumlahnya sedikit. Pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang besar tersebut.Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang. Anak yang menderita gizi buruk terjadi karena tidak terpenuhinya angka kecukupan gizinya yang disebabkan oleh rendahya konsumsi energi dan protein sehari-harinya. Memberikan makanan yang bergizi juga tidak selalu identik dengan memberikan makanan yang mahal dan tidak terjangkau. Banyak makanan yang sehat dibuat dengan mudah tanpa membutuhkan biaya yang besar.
6.4   Faktor penyebab asupan protein 
Protein adalah bagian dari semua sel hidup yang merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan dengan zat gizi lain yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh ( Almatsier, 2003 ). Hasil penelitian tentang  asupan protein terhadap kejadian gizi buruk disajikan pada tabel berikut.
screenshotHubungan faktor penyebab asupan protein dengan kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari



Tabel 5, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 20 balita (80%) memiliki asupan protein yang kurang. Sedangkan dari 25 sampel kontrol sebagian besar 18 responden (72%) memiliki asupan protein yang cukup.  Hasil uji statistik di dapatkan nilai  = 0,000 dengan demikian nilai  lebih kecil dari  = 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 10,28 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (2,78) dan Upper Limit (38,25) > 1, artinya Ho ditolak dan Ha diterima.  Hal ini berarti bahwa balita dengan asupan protein yang kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk 10, 28 kali dibanding dengan balita yang memiliki asupan protein yang cukup. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang memiliki asupan protein kurang,  berpeluang 10, 28 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding dengan balita yang memiliki asupan protein yang cukup. Sehingga disimpulkan bahwa asupan protein merupakan faktor penyebab kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.
Berdasarkan hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara asupan protein dengan kejadian gizi buruk pada anak balita. Hasil wawancara peneliti bahwa responden masih sangat kurang dalam pemenuhan asupan protein, maka dalam pemberian makanan tidak perlu yang mahal, cukup memberikan makanan yang sehat dan murah. Sehingga anak mendapatkan asupan makanan yang cukup.  Menurut Almatsier (2003) bahwa konsumsi energi yang cukup disebabkan karena tingginya keragaman konsumsi makanan sumber protein, baik protein hewani maupun protein nabati. Selanjutnya dikatakatan bahwa apabila terjadi kekurangan protein dalam jangka waktu yang lama, akan mengakibatkan persediaan protein dalam tubuh semakin berkurang sehingga dapat mengakibatkan balita menderita Kwasiorkor. Kekurangan protein dalam balita ini sering ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi.
Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang. Anak yang menderita gizi buruk terjadi karena tidak terpenuhinya angka kecukupan gizinya yang disebabkan oleh rendahya konsumsi energi dan protein sehari-harinya. Memberikan makanan yang bergizi juga tidak selalu identik dengan memberikan makanan yang mahal dan tidak terjangkau. Banyak makanan yang sehat dibuat dengan mudah tanpa membutuhkan biaya yang besar.

PENUTUP
KESIMPULAN
Defisiensi karbohidrat dan protein yang terus menerus terjadi pada balita akan menyebabkan gizi buruk, baik itu berupa marasmus, kwashiorkhor maupun marasmus-kwashiorkhor. Defisiensi tersebut akan berawal pada tingkat sel, jaringan dan organ sampai akhirnya akan menimbulkan gejala klinis. Gejala klinis yang terjadi tidak terlepas dari fungsi dan peran penting yang dimiliki oleh karbohidrat dan protein bagi balita. Karbohidrat sebagai energi utama dan protein sebagai zat pembangun yang sangat dibutuhkan oleh balita. KEP perlu dicegah dan ditanggulangi dengan memperbaiki asupan karbohidrat dan protein agar sesuai dengan kebutuhan balita







Daftar Pustaka
Almatsier, S. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta. 2003.
Depkes RI. Gizi Seimbang Menuju hidup Sehat Bagi Balita, Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta.2005
      . Panduan Umum Keluarga Sadar Gizi, Ditjen Bina Kedehatan Masyarakat, Depkes RI, Jakarta.2007
      . Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional 2007, Badan penelitian dan pengembangan kesehatan, jakarta, www. docstoc. Com/.../ laporan hasil riset kesehatan dasar (riskesdas)-nasional 2007 (diaskes 11 februari 2010).2008
Dinkes Provinsi Sultra. Profil Kesehatan Kesehatan Sulawesi Tenggara, Kendari.2007
      . Laporan Pelacakan Kasus Gizi Buruk Provonsi Sulawesi Tenggara, Kendari.2009
Kamarullah. Identifikasi Faktor-Faktor Sosial, Ekonomi dan Kesehatan Pada Ibu Hamil Kurang Energi Kronik (KEK) di Daerah Pantai. Skripsi Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Fakultas Pertanaian IPB, Bogor.2008
Moehji, S.  Ilmu Gizi, Penerbit Papas Sinar Sinanti, Jakarta.2002
Nency, Y. Gizi Buruk Ancaman Generasi yang Hilang, http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=113, 5 November 2005.
Profil Puskesmas Mata Kota Kendari, 2010

Quaria, A, F, L. Faktor Resiko Kejadian Gizi Buruk pada Balita di Puskesmas Alliritengae kecamatan Turikale Kabupaten Maros tahun 2008. Skripsi yang tidak diterbitkan, Univesitas Hasanuddin, Makassar. 2008
Soekirman. Dampak Pembangunan Terhadap Keadaan Gizi, Orasi Penerimaan Jabatan Guru Besar Ilmu Gizi, Faperta, IPB, Bogor.2000
Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta.2008
Suhardjo. Sosio Budaya Gizi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.2005
Supariasa, N, Bakri, B, Fajar, I. Penilaian Status Gizi, Penerbit EGC, Jakarta.2001
Yulianty. Faktor Resiko Kejadian Gizi Buruk Pada Balita di Kecamatan Mandonga Kota Kendari tahun 2008. Skripsi Unhalu, Kendari.2008
Boyd, K. P., A. Andea, et al. (2012). "Acute Inpatient Presentation of Kwashiorkor: Not Just a Diagnosis of the Developing World." Pediatr Dermatol 3(10): 1525-1470.

Creek, T. L., A. Kim, et al. (2010). "Hospitalization and mortality among primarily nonbreastfed children during a large outbreak of diarrhea and malnutrition in Botswana, 2006." J Acquir Immune Defic Syndr 53(1): 14-19.

Escoda, S., H. Chappuy, et al. (2010). "An unusual cause of extensive edema." Pediatr Emerg Care 26(5): 378-379.

Demonet, G. (2012). "[Rice milk and risk of malnutrition]." Soins Pediatr Pueric 264: 8.

Diamanti, A., S. Pedicelli, et al. Iatrogenic Kwashiorkor in three infants on a diet of rice beverages, Pediatr Allergy Immunol. 2011 Dec;22(8):878-9. doi: 10.1111/j.1399-3038.2011.01180.x.

El-Hodhod, M. A., E. K. Emam, et al. (2009). "Serum ghrelin in infants with protein-energy malnutrition." Clin Nutr 28(2): 173-177.

Forrester, T. E., A. V. Badaloo, et al. (2012). "Prenatal factors contribute to the emergence of kwashiorkor or marasmus in severe undernutrition: evidence for the predictive adaptation model." PLoS One 7(4): 30.

Galler, J. R., C. P. Bryce, et al. (2010). "Early childhood malnutrition predicts depressive symptoms at ages 11-17." J Child Psychol Psychiatry 51(7): 789-798

Grover, Z. and L. C. Ee (2009). "Protein energy malnutrition." Pediatr Clin North Am 56(5): 1055-1068.

Hadju, Veni. Dasar-dasar Gizi. FKM Unhas : 2003.

Kimutai, D., E. Maleche-Obimbo, et al. (2009). "Hypo-phosphataemia in children under five years with kwashiorkor and marasmic kwashiorkor." East Afr Med J 86(7)

Manary, M. J., G. T. Heikens, et al. (2009). "Kwashiorkor: more hypothesis testing is needed to understand the aetiology of oedema." Malawi Med J 21(3): 106-107.

Retno Sri Iswari dkk, Biokimia, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2006
Sediaoetama achmad djaeni. 2009. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta: Dian Rakyat.

Sunita, Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar