PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Masalah gizi pada
hakekatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun penanggulangannya tidak
dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab
timbulnya masalah gizi adalah multifactor,
karena itu penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.
Secara umum masalah gizi di Indonesia, terutama KEP masih lebih tinggi dari
pada negara ASEAN lainnya.
KEP merupakan salah satu
masalah gizi utama di Indonesia. KEP disebabkan karena defisiensi macro
nutrient (zat gizi makro). Meskipun sekarang ini terjadi pergeseran masalah
gizi dari defisiensi macro nutrient kepada defisiensi micro nutrient, namun
beberapa daerah di Indonesia prevalensi KEP masih tinggi (> 30%) sehingga
memerlukan penanganan intensif dalam upaya penurunan prevalensi KEP.
Adapun yang menjadi penyebab langsung terjadinya KEP adalah konsumsi
yang kurang dalam jangka waktu yang lama. Pada balita, KEP timbul pada anggota keluarga rumahtangga
miskin oleh karena kelaparan akibat gagal
panen atau hilangnya mata pencaharian kepala keluarga.. Marasmus sering dijumpai pada anak < 1 tahun, di daerah
urban, sedangkan kwasiorkor sering dijumpai pada usia > 2 tahun di daerah
yang kumuh dan padat penduduk.
KEP adalah manifestasi dari
kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak
memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya
kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut malnutrisi primer bila
kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi, yang pada umumnya didasari oleh
masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi.
Malnutrisi sekunder bila
kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama,
seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan
metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi
yang turun dan/meningkatnya kehilangan nutrisi.Makanan yang tidak adekuat, akan
menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi
penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian
cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi
stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga
dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi
pada saat status gizi masih diatas -3 SD (-2SD–3SD), maka terjadilah
kwashiorkor
Berdasarkan uraian tersebut,
maka tulisan ini mencoba menjelaskan kekurangan karbohidrat dan protein pada kejadian
gizi buruk balita.
PEMBAHASAN
1. GIZI BURUK PADA BALITA
Penyakit Gizi Buruk
Menyerang Balita dan Anak-Anak, Kasus gizi buruk umumnya menimpa balita dengan
latar belakang ekonomi lemah. Beragam masalah malnutrisi
banyak ditemukan pada anak-anak dari kurang gizi hingga busung lapar.Menurut
UNICEF saat ini adasekitar 40 % anak Indonesia di bawah usia lima tahun
menderitagizi buruk. Betapa banyaknya bayi dan anak-anak yang sudah
bergulat dengan kelaparan dan penderitaan sejak merekadilahirkan.Penyebab utama
gizi buruk tidak satu. Ada banyak!. Penyebab utama kasus gizi
buruk diIndonesia tampaknya karena masalah ekonomi atau kurang
pengetahuan. Kemiskinanmemicukasus gizi buruk, kemiskinan dan ketidakmampuan
orang tua menyediakan makanan bergizi bagianaknya menjadi penyebab utama
meningkatnya korban gizi buruk di Indonesia. Dan juga faktor alam,
manusiawi ( kultur social masyarakat setempat ), pemerintah, dan lain
±lain.Persoalan gizi buruk masih menghantui sebagian warganya. Bagaimana bisa
di erasekarang,masih dijumpai ribuan, dan ratusan ribu anak balita, yang
menjadi pemegang masadepanIndonesia menderita gizi buruk. Ketidak seriusan
pemerintah terlihat jelas ketika penanganankasus gizi buruk terlambat
seharusnya penanganan pelayanan kesehatan dilakukandisaat penderita gizi buruk
belum mencapai tahap membahayakan. Setelah kasus gizi
buruk merebak barulah pemerintah melakukan tindakan ( serius ).
Keseriusan pemerintahmencanangkanGerakan Penanganan Diare dan Gizi Buruk sejak
Juli 2007 lalu disusul denganGerakanKedaulatan Pangan yang akan dicanangkan
April 2008, keseriusan pemerintah tidak adaartinyaapabila tidak didukung
masyarakat itu sendiri. Sebab, perilaku masyarakat yang sudah membudaya
selama ini adalah, anak-anak yang menderita penyakit kurang mendapatkan
perhatian orang tua. Anak-anak itu hanya diberi makan seadanya, tanpa peduli akan
kadar gizi dalam makanan yang diberikan. Apalagi kalau persediaan pangan
keluarga sudah menipis.Gizi buruk akut atau busung lapar menurut Sensus WHO
menunjukkan 49% dari 10,4 jutakematian yang terjadi pada anak dibawah lima
tahun di negara berkembang. Kasuskekurangangizi tercatat sebanyak 50% anak-anak
di Asia, 30% anak-anak Afrika, dan 20% anak-anak diAmerika Latin. Dari kondisi
tubuh balita yang menderita gizi buruk memiliki berat badandi bawah rata-rata,
berat badan/umur Balita < 60 persen berada di bawah garis merah sehingga tergolong
Kekurangan Energi ;Protein (KEP) berat. Ciri-ciri yang mudah terdekteksi
pada tanda marasmus.Komponen biologi yang melatar belakangi KKP
antara lain malnutrisi ibu, penyakit infeksi, dandiet rendah energi &
protein.Seorang ibu yang mengalami KKP selama kurun waktu tersebut pada
gilirannya akan melahirkan bayi berberat badan rendah. Kurang Kalori Protein
(KKP) akanterjadi manakala kebutuhantubuh akan kalori, protein, atau keduanya,
tidak tercukupi oleh diet.Sindrom kwasiorkor terjelma manakala defisiensi
menampakan dominasi protein, dan maramustermanifestasi jikaterjadi kekurangan
energi yang parah. Kombinasi kedua bentuk ini marasmik kwasiorkor,
jugatidak sedikit. Malnutrisi Primer Penyebab gizi buruk di daerah pedesaan
ataudaerah miskin lainnya sering disebut malnutrisi primer, yang disebabkan
karena masalahekonomi, rendahnya pengetahuan, dan kurangnyaasupan gizi.
Gejala kinis malnutrisi primer sangat bervariasi tergantung derajat
dan lamanyakekurangan energi dan protein, umur penderita dan adanya gejala
kekurangan vitamindanmineral lainnya. Kasus tersebut sering dijumpai pada
anak usia 9 bulan hingga 5tahun.Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat
dari kenaikkan berat badan terhenti ataumenurun,ukuran lengan atas menurun,
pertumbuhan tulang
(maturasi) terlambat, perbandingan beratterhadap tinggi menurun. Gejala
dan tanda klinis yang tampak adalah anemia ringan,aktifitas berkurang, kadang
di dapatkan gangguan kulit dan rambut.Malnutrisi
2. Defisiensi
Karbohidrat dan Protein pada Kejadian Gizi Buruk Balita
Interaksi antara faktor-faktor keberadaan zat
gizi (faktor penyebab), cadangan zat gizi dalam tubuh, penyakit infeksi,
infestasi cacing, aktifitas (faktor penjamu), pantangan, cara pengolahan
(faktor lingkungan) sangat penting dipertahankan dalam keadaan
seimbang dan optimal. Bila keseimbangan ini tidak terjaga maka akan
terjadi perubahan dalam tubuh, yakni terjadinya pemakaian cadangan zat gizi
yang tersimpan dalam tubuh.
Bila hal ini berlangsung lama maka
berangsur-angsur cadangan tubuh akan berkurang dan akhirnya akan habis. Hal
tersebut dilakukan untuk mempertahankan metabolisme kehidupan sehari-hari.
Diawali dengan terjadinya mobilisasi zat-zat gizi yang berasal dari jaringan
tubuh. Sebagai akibat hal tersebut, tubuh akan mengalami penyusutan jaringan
tubuh, kelainan metabolisme oleh karena kekurangan zat-zat gizi, kelainan
fungsional, dan akhirnya kerusakan organ tubuh dengan segala keluhan,
gejala-gejala dan tanda-tanda yang timbul sesuai dengan jenis zat gizi yang
menjadi pangkal penyebabnya, bila protein penyebabnya akan terjadi kwasiorkor,
bila energi penyebanya akan terjadi marasmus atau keduanya sebagai penyebab
akan terjadi marasmus kwasiorkor.
Dimulai dengan perubahan yang
paling ringan sampai berat, dimulai hanya dengan kekurangan cadangan zat gizi
(belum ada perubahan biokemik dan fisiologi), kelainan gizi potensial (sudah
ada perubahan biokemik dan fisiologi), kelainan gizi laten (gejala, dan tanda klinis
masih terbatas dan belum khas) sampai terjadi kelainan gizi klinik (gejala, dan
tanda klinis khas dan jelas).
Malnutrisi sekunder
disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi
kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan
nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan/meningkatnya kehilangan
nutrisi.Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai
cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai
dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein
dengan melalui proses katabolik. Kalau terjadi stres katabolik (infeksi) maka
kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi
protein yang relatif, kalau kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih
diatas -3 SD (-2SD–3SD), maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi
akut/decompensated malnutrition).
3. Secara
klinis KEP terdapat dalam 3 tipe yaitu :
3.1 Marasmus
Marasmus sering
sekali terjadi pada bayi di bawah 12 bulan. Terdapat beberapa tanda khusus pada
marasmus ialah kurangnya (bahkan tidak ada) jaringan lemak di bawah kulit . sehingga
seperti bayi yang memakai pakaian yang terlalu besar ukurannya. Selain itu
terdapat pula beberapa tanda khusus bayi terkena marasmus, diantaranya:
·
Bayi akan
merasa lapar dan cengeng.
·
Oedema
(bengkak) tidak terjadi ( Escoda, S., H. Chappuy, et al. 2010)
·
Warna rambut
tidak berubah.
·
Wajahnya
tampak menua (old man/monkey face).
·
Atrofi
jaringan, otot lemah terasa kendor/lembek ini dapat dilihat pada paha dan
pantat bayi yang seharusnya kuat dan kenyal dan tebal.
Pada marasmus
tingkat berat, terjadi retardasi pertumbuhan, berat badan dibanding usianya
sampai kurang 60% standar berat normal. Sedikitnya jaringan adipose pada marasmus
berat tidak menghalangi homeostatis, oksidasi lemak tetap utuh namun
menghabiskan cadangan lemak tubuh. Keberadaan persediaan lemak dalam tubuh
adalah faktor yang menentukan apakah bayi marasmus dapat bertahan/survive.
3.2 Kwashiorkor
Kwashiorkor bisanya
terjadi pada anak usia 1-3 tahun. Pertumbuhannya terhambat, jaringan otot lunak
dan kendor Namun jaringan lemak dibawah
kulit masih ada dibanding bayi marasmus. Beberapa tanda khusus dari kwashiorkor
adalah:
·
Rambut
berubah menjadi warna kemerahan atau abu-abu, menipis dan mudah rontok, apabila
rambut keriting menjadi lurus.
·
Kulit tampak
pucat dan biasanya disertai anemia.
Selalu ada oedema
(bengkak), terutama pada kaki dan tungkai bawah. Sifatnya “pitting oedema”.
Bayi tampak gemuk, muka membulat (moon face), karena oedema. Cairan oedema
sekitar 5-20% dari jumlah berat badan yang diperhitungkan dari penurunan berat
badan ketika tidak oedema lagi (pada masa penyembuhan).
Terjadi
dispigmentasi dikarenakan habisnya cadangan energi atau protein. Pada kulit yang
terdapat dispigmentasi akan tampak pucat. Sering terjadi dermatitis (radang
pada kulit). Kulit mudah luka karena tidak adanya tryptophan dan nicotinamide,
meskipun kekurangan zinc bisa juga menjadi penyebab dermatitis. Pada kasus
kwashiorkor tingkat berat kulit akan mengeras seperti keripik terutama pada
persendian utama. Bibir retak-retak, lidah pun menjadi lunak dan gampang luka.
Pada kwashiorkor,
pengaruh terhadap sistem neurologi dijumpai adanya tremor seperti Parkinson
yang berpengaruh terhadap jaringan (cabang) syaraf tunggal maupun syaraf
kelompok pada otot. Seperti otot mata sering terjadi terus berkedip, atau pada
pita suara yang menghasilkan suara getar serak/cengeng.
3.3 Marasmik –
Kwashiorkor
Anak/bayi yang
menderita marasmik-kwashiorkor mempunyai gejala (sindroma) gabungan kedua hal
di atas. Seorang bayi yang menderita marasmus lalu berlanjut menjadi
kwashiorkor atau sebaliknya tergantung dari makanan/gizinya dan sejauh mana
cadangan energi dari lemak dan protein akan berkurang/habis terpakai.
Pengaruh KEP
Terhadap Beberapa Organ Saluran Pencernaan
Malnutrisi berat
menurunkan sekresi asam dan melambatkan gerak lambung. Mukosa usus halus
mengalami atrofi. Vili pada mukosa usus lenyap, permukaannya berubah menjadi
datar dan diinfiltrasi oleh sel-sel limfosit. Pembaruan sel-sel epitel, indeks
mitosis, kegiatan disakarida berurang. Pada hewan percobaan, kemampuan untuk
mempertahankan kandungan normal mucin dalam mukosa terganggu dan laju
penyerapan asam amino serta lemak berkurang.
3.3.1 Pankreas
Malnutrisi
menyebabkan atrofi dan fibrosis sel-sel asinar yang akan mengganggu fungsi
pankreas sebagi kelenjar eksokrin. Gangguan fungsi pankreas bersama dengan
intoleransi disakarida akan menimbulkan sindrom malabsorpsi, yang selanjutnya
berlanjut sebagai diare.
3.3.2 Hati
Pengaruh malnutrisi
pada hati bergantung pada lama, serta jenis zat gizi yang berkurang. Glikogen
pada penderita marasmus cepat sekali terkuras sehingga zat lemak kemudian
tertumpuk dalam sel-sel hati. Manakala kelaparan terus berlanjut, hati mengerut
sementara kandungan lemak menyusut dan protein habis meskipun jumlah hepatosit
relative tidak berubah.
4. Sistem
Hematologik
Perubahan pada
sistem hematologic meliputi anemia, leucopenia, trombotopenia, pembentuan
akantosit, serta hipoplasia sel-sel sumsum tulang yang berkaitan dengan
transformasi substansi dasa, tempat nekrosis sering terlihat. Derajat kelainan
ini bergantung pada berat serta lamanya kekurangan energy berlangsung (Sunita
Matsier, 2009)
Anemia pada kasus
demikian biasanya bersifat normokromik dantidak disertai oleh retikulositosis
meskipun cadangan zat besi cukup adekuat. Penyebab anemia pasien yang asupan
proteinnya tidak adekuat ialah menurunnya sintesis eritropoietin, sementara
anemia pada mereka yang sama sekali tidak makan protein timbul karena stem cell
dalam sumsum tulang tidak berkembang, di samping sintesis eritropoietin juga
menurun (Sunita Matsier, 2009).
Malnutrisi berat
berkaitan dengan leucopenia dan hitung jenis yang normal. Morfologi neutrofil
juga kelihatan normal. Namun, jika infeksi terjadi, jumlah neutrofil biasanya
(namun tidak selalu) meningkat. Simpanan neutrofil yang dinyataan sebagai
hitung neutrofil tertinggi setelah 3-5 jam pemberian hidrokortison pada
malnutrisi juga berkurang, dan fungsinya tidak normal. Sebagai tambahan, jumlah
trombosit turut pula menurun (Sunita Matsier, 2009).
5. Penanganan
dan Pencegahan
Pengobatan terhadap KEP adalah ditujukan
untuk menambah zat gizi yang kurang, namun dalam prosesnya memerlukan waktu dan
harus secara bertahap, oleh karenanya harus di rawat inap di rumah sakit.
Secara garis besar penanganan KEP adalah sebagai berikut :
1. Pada tahap awal harus diberikan cairan intra vena,
selanjutnya dengan parenteral dengan bertahap, dan pada tahap akhir dengan diet
tinggi kalori dan tinggi protein.
2. Komplikasi penyakit penyerta seperti infeksi,
anemia, dehidrasi dan defiseiensi vitamin diberikan secara bersamaan.
3. Penanganan terhadap perkembangan mental anak
melalui terapi tumbuh kembang anak.
4. Penanganan kepada keluarga, melalui petunjuk
terapi gizi kepada ibu karena sangat penting pada saat akan keluar rumah
sakit akan mempengaruhi keberhasilan penanganan KEP di rumah.
Pencegahan dari KEP
pada dasarnya adalah bagaimana makanan yang seimbang dapat dipertahankan
ketersediannya di masyarakat. Langkah- langkah nyata yang dapat dilakukan untuk
pencegahan KEP adalah :
a. Mempertahankan status gizi anak yang sudah baik
tetap baik dengan menggiatkan kegiatan surveilance gizi di institusi kesehatan
terdepan (Puskesmas, Puskesmas Pembantu).
b. Mengurangi resiko untuk mendapat penyakit,
mengkoreksi konsumsi pangan bila ada yang kurang, penyuluhan pemberian makanan
pendamping ASI.
c. Memperbaiki/mengurangi efek penyakit infeksi yang
sudah terjadi supaya tidak menurunkan status gizi.
d. Merehabilitasi anak yang menderita KEP pada fase
awal/BGM.
e. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam program
keluarga berencana.
f. Meningkatkan status ekonomi masyarakat melalui
pemberdayaan segala sektor ekonomi masyarakat (pertanian, perdagangan, dan
lain-lain).
6. FAKTOR PENYEBAB GIZI BURUK PADA ANAK BALITA
6.1 Faktor penyebab pola asuh
Pengasuhan anak adalah praktek yang dijalankan oleh orang yang lebih
dewasa terhadap anak yang dihubungkan dengan pemenuhan kebutuhan pangan/gizi.
Perawatan dasar (termasuk imunisasi, pengobatan bila sakit), rumah atau tempat
tinggal yang layak, hygiene perorangan, sanitasi lingkungan, sandang, kesegaran
jasmani. Pola pengasuhan anak sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
anak karena anak yang mendapat perhatian lebih baik secara fisik maupun
emosional keadaan gizinya lebih baik dibandingkan dengan teman sebayanya yang
kurang mendapat perhatian (Soetjiningsih, 2008). Hasil penelitian tentang pola asuh orang tua
terhadap kejadian gizi buruk disajikan pada tabel berikut.
Hubungan
faktor penyebab pola asuh dengan kejadian gizi buruk pada anak balita di
Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari
Tabel 1, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 19
responden (76%) memiliki pola asuh yang buruk. Sedangkan dari 25 sampel kontrol
sebagian besar 20 responden (80%) memiliki pola asuh yang baik. Hasil uji
statistik di dapatkan nilai
= 0,000 dengan demikian nilai
lebih kecil dari
= 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 12,67 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (0,02) dan Upper Limit (0,32) > 1. Hal ini
berarti bahwa balita dengan pola asuh yang buruk berisiko mengalami kejadian
gizi buruk 12,67 kali dibanding dengan balita yang memiliki pola asuh yang
baik. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang pola asuhnya buruk,
berpeluang 12,67 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding dengan
balita yang pola asuhnya baik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pola asuh
merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja
Puskesmas Mata Kota Kendari.
Berdasarkan hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara pola
asuh dengan kejadian gizi buruk pada anak balita.Hasil wawancara peneliti bahwa
responden masih kurang baik dalam mengasuh balita, sehingga perlu adanya
pengawasan yang lebih dalam mengasuhnya. Pengasuhan anak adalah praktek yang
dijalankan oleh orang yang lebih dewasa terhadap anak yang dihubungkan dengan
pemenuhan kebutuhan pangan/gizi. Perawatan dasar (termasuk imunisasi, pengobatan
bila sakit), rumah atau tempat tinggal yang layak, hygiene perorangan, sanitasi
lingkungan, sandang, kesegaran jasmani. Pola pengasuhan anak sangat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak karena anak yang mendapat
perhatian lebih baik secara fisik maupun emosional keadaan gizinya lebih baik
dibandingkan dengan teman sebayanya yang kurang mendapat perhatian
(Soetjiningsih, 2008).
Menurut Moehji (2002) bahwa pengasuhan yang baik sangat baik
untuk dapat menjamin tumbuh kembang anak yang optimal, misalnya keluarga miskin
dimana ketersediaan pangan dirumahnya belum tentu mencukupi, ibu yang tahu
mengasuh anak dapat memanfaatkan sumber-sumber yang terbatas untuk dapat
menjamin tumbuh kembang anak yang optimal. Hasil
penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Quaria (2008) yang menyatakan
bahwa pola asuh merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di
Puskesmas Alliritengae Kecamatan Turikale Kabupaten Maros. Penyebab rendahnya pola asuh pada anak
yaitu karena kesibukkan dari orang tua yang mengasuh tanpa memperhatikan anak
dalam bermain di rumah maupun di luar rumah, maka anak tidak terkontrol baik
makan maupun kebutuhan yang lainnya. Sehingga gizi buruk pada anak dapat
terjadi.
6.2 Faktor
Penyebab Pendapatan Keluarga
Pendapatan
yang rendah dapat mempengaruhi pemenuhan bahan makanan terutama makanan yang
bergizi. Keterbatasan ekonomi berarti ketidak mampuan daya beli keluarga yang
berarti tidak mampu membeli bahan makanan yang berkualitas baik, maka pemenuhan
gizi pada balitanya akan terganggu. Di negara seperti indonesia yang jumlah
pendapatan penduduk sebagian besar adalah golongan rendah dan menengah akan
berdampak kepada pemenuhan bahan makanan terutama makanan bergizi. Keterbatasan
ekonomi yang berarti ketidakmampuan daya beli keluarga yang berarti tidak mampu
membeli bahan makanan yang berkualitas baik, maka pemenuhan gizi pada balitanya
juga akan terganggu. Hasil penelitian tentang pendapatan keluarga terhadap
kejadian gizi buruk disajikan pada tabel berikut.
Hubungan
faktor penyebab pendapatan keluarga dengan kejadian gizi buruk pada anak balita
di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari
Tabel 3, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 20
responden (80%) memiliki pengetahuan ibu tentang gizi yang kurang. Sedangkan
dari 25 sampel kontrol sebagian besar 21 responden (84%) memiliki pengetahuan
ibu tentang gizi yang cukup. Hasil uji statistik di dapatkan nilai
= 0,000 dengan demikian nilai
lebih kecil dari
= 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 21 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (4,92) dan Upper Limit (89,56) > 1. Hal ini
berarti bahwa balita dengan pengetahuan
ibu tentang gizi yang kurang berisiko mengalami kejadian gizi buruk 21 kali
dibanding dengan balita yang memiliki pengetahuan
ibu tentang gizi yang cukup. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang pengetahuan ibu tentang gizi yang
kurang, berpeluang 21 kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding dengan
balita yang pengetahuan ibu tentang
gizi
cukup. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pengetahuan
ibu tentang gizi merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di
Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari. Berdasarkan hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara pengetahuan
ibu tentang gizi dengan kejadian gizi
buruk pada anak balita. Hasil wawancara peneliti bahwa responden masih sangat
kurang dalam pengetahuan ibu tentang gizi, maka perlu lebih banyak membaca baik di media cetak maupun menonton
televisi. Sehingga ibu lebih tahu tentang gizi yang baik untuk anak.
Hasil penelitian ini
sejalan dengan hasil penelitian Yulianty (2008) yang menyatakan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi
merupakan faktor penyebab gizi buruk pada anak balita di Kecamatan Mandonga Kota
Kendari. Pengetahuan ibu tentang gizi yang
rendah pada responden, berisiko mangalami gizi buruk pada balita 6,2 kali jika
dibandingkan dengan pengetahuan ibu
tentang gizi yang cukup pada responden. Menurut Soekirman (2000) bahwa pengetahuan ibu
tentang gizi berpengaruh terhadap konsumsi pangan keluarga yang pada akhirnya
akan mempengaruhi status gizi keluarga tersebut. Namun demikian pengetahuan ibu
tentang gizi adalah faktor yang berpengaruh. Penyebab
rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi yaitu karena latar belakang pendidikan
yang masih sangat kurang, sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan seorang ibu.
6.3 Faktor Penyebab Asupan Energi
Secara garis besar penyebab
anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang kurang. Anak yang
menderita gizi buruk terjadi karena tidak terpenuhinya angka kecukupan gizinya
yang disebabkan oleh rendahya konsumsi energi dan protein sehari-harinya.
Memberikan makanan yang bergizi juga tidak selalu identik dengan memberikan
makanan yang mahal dan tidak terjangkau. Banyak makanan yang sehat dibuat
dengan mudah tanpa membutuhkan biaya yang besar. Hasil penelitian tentang
asupan energi terhadap kejadian gizi buruk disajikan pada tabel berikut.
Hubungan
faktor penyebab asupan energi dengan kejadian gizi buruk pada anak balita di
Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari

Tabel 4, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus
sebagian besar 19 responden (76%) memiliki asupan energi yang kurang Sedangkan dari 25 sampel kontrol sebagian
besar 17 responden (68%) memiliki asupan energi yang cukup. Hasil uji statistik di dapatkan nilai
= 0,002 dengan demikian nilai
lebih kecil dari
= 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka diperoleh nilai Odds Ratio (OR) sebesar 6,79 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (1,99) dan Upper Limit (23,36) > 1. Hal ini
berarti bahwa balita dengan asupan energi yang kurang berisiko mengalami
kejadian gizi buruk 6,79 kali dibanding dengan balita yang memiliki asupan
energi yang cukup. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang memiliki
asupan energi yang kurang berpeluang 6,79 kali berisiko untuk menderita gizi
buruk dibanding dengan balita yang memiliki asupan energi yang cukup. Sehingga
disimpulkan bahwa asupan energi merupakan faktor penyebab kejadian gizi buruk
pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata Kota Kendari.
Berdasarkan hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara asupan
energi dengan kejadian gizi buruk
pada anak balita. Hasil wawancara peneliti bahwa responden masih sangat kurang
dalam pemenuhan asupan energi, maka
dalam pemberian makanan tidak perlu yang mahal, cukup memberikan makanan yang
sehat dan murah. Sehingga anak mendapatkan asupan makanan yang cukup. Menurut
Supariasa (2001) bahwa konsumsi energi yang kurang dalam makanan sehari-hari
akan dapat menyebabkan seseorang akan kekurangan gizi pada akhirnya anak yang
gizinya baik, lama kelamaan akan menderita gizi buruk. Tingkat konsumsi energi
yang cukup akan memberi pengaruh terhadap efisiensi penggunaan protein tubuh. Lebih
lanjut menurut Suhardjo (2005) sumber pangan keluarga, terutama mereka yang
sangat miskin, akan lebih mudah memenuhi kebutuhan makanannya jika yang harus
diberi makan jumlahnya sedikit. Pangan yang tersedia untuk suatu keluarga yang
besar mungkin cukup untuk keluarga yang besarnya setengah dari keluarga
tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada keluarga yang
besar tersebut.Secara garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan
karena asupan makanan yang kurang. Anak yang menderita gizi buruk terjadi
karena tidak terpenuhinya angka kecukupan gizinya yang disebabkan oleh rendahya
konsumsi energi dan protein sehari-harinya. Memberikan makanan yang bergizi
juga tidak selalu identik dengan memberikan makanan yang mahal dan tidak terjangkau.
Banyak makanan yang sehat dibuat dengan mudah tanpa membutuhkan biaya yang
besar.
6.4 Faktor
penyebab asupan protein
Protein adalah bagian dari semua
sel hidup yang merupakan bagian terbesar tubuh sesudah air. Protein mempunyai
fungsi khas yang tidak dapat digantikan dengan zat gizi lain yaitu membangun
serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh ( Almatsier, 2003 ). Hasil penelitian tentang asupan protein terhadap kejadian gizi buruk
disajikan pada tabel berikut.
Hubungan faktor penyebab asupan protein
dengan kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas Mata
Kota Kendari
Tabel
5, menunjukkan bahwa dari 25 sampel kasus sebagian besar 20 balita (80%)
memiliki asupan protein yang kurang. Sedangkan dari 25 sampel kontrol sebagian besar
18 responden (72%) memiliki asupan protein yang cukup. Hasil uji statistik di dapatkan nilai
= 0,000 dengan demikian nilai
lebih kecil dari
= 0,05 pada tingkat kepercayaan 95%. Maka
diperoleh nilai Odds Ratio (OR)
sebesar 10,28 sedangkan nilai CI dengan nilai Lower Limit (2,78) dan Upper
Limit (38,25) > 1, artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Hal
ini berarti bahwa balita dengan asupan protein yang kurang berisiko mengalami
kejadian gizi buruk 10, 28 kali dibanding dengan balita yang memiliki asupan
protein yang cukup. Hal tersebut dapat dikatakan bahwa balita yang memiliki
asupan protein kurang, berpeluang 10, 28
kali berisiko untuk menderita gizi buruk dibanding dengan balita yang memiliki
asupan protein yang cukup. Sehingga disimpulkan bahwa asupan protein merupakan
faktor penyebab kejadian gizi buruk pada anak balita di Wilayah Kerja Puskesmas
Mata Kota Kendari.
Berdasarkan
hasil analisa bivariat bahwa ada hubungan antara asupan
protein dengan kejadian gizi buruk pada anak balita. Hasil
wawancara peneliti bahwa responden masih sangat kurang dalam pemenuhan asupan protein, maka
dalam pemberian makanan tidak perlu yang mahal, cukup memberikan makanan yang
sehat dan murah. Sehingga anak mendapatkan asupan makanan yang cukup. Menurut
Almatsier (2003) bahwa konsumsi energi yang cukup disebabkan karena tingginya
keragaman konsumsi makanan sumber protein, baik protein hewani maupun protein
nabati. Selanjutnya dikatakatan bahwa apabila terjadi kekurangan protein dalam
jangka waktu yang lama, akan mengakibatkan persediaan protein dalam tubuh
semakin berkurang sehingga dapat mengakibatkan balita menderita Kwasiorkor. Kekurangan protein dalam
balita ini sering ditemukan secara bersamaan dengan kekurangan energi.
Secara
garis besar penyebab anak kekurangan gizi disebabkan karena asupan makanan yang
kurang. Anak yang menderita gizi buruk terjadi karena tidak terpenuhinya angka
kecukupan gizinya yang disebabkan oleh rendahya konsumsi energi dan protein
sehari-harinya. Memberikan makanan yang bergizi juga tidak selalu identik
dengan memberikan makanan yang mahal dan tidak terjangkau. Banyak makanan yang
sehat dibuat dengan mudah tanpa membutuhkan biaya yang besar.
PENUTUP
KESIMPULAN
Defisiensi karbohidrat dan protein yang terus
menerus terjadi pada balita akan menyebabkan gizi buruk, baik itu berupa
marasmus, kwashiorkhor maupun marasmus-kwashiorkhor. Defisiensi tersebut akan
berawal pada tingkat sel, jaringan dan organ sampai akhirnya akan menimbulkan
gejala klinis. Gejala klinis yang terjadi tidak terlepas dari fungsi dan peran
penting yang dimiliki oleh karbohidrat dan protein bagi balita. Karbohidrat
sebagai energi utama dan protein sebagai zat pembangun yang sangat dibutuhkan
oleh balita. KEP perlu dicegah dan ditanggulangi dengan memperbaiki asupan
karbohidrat dan protein agar sesuai dengan kebutuhan balita
Daftar Pustaka
Almatsier, S. Prinsip
Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Umum, Jakarta. 2003.
Depkes RI. Gizi Seimbang
Menuju hidup Sehat Bagi Balita, Direktorat Gizi Masyarakat. Jakarta.2005
.
Panduan Umum Keluarga Sadar Gizi,
Ditjen Bina Kedehatan Masyarakat, Depkes RI, Jakarta.2007
.
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional 2007, Badan penelitian dan
pengembangan kesehatan, jakarta, www. docstoc. Com/.../ laporan hasil riset
kesehatan dasar (riskesdas)-nasional 2007 (diaskes 11 februari 2010).2008
Dinkes Provinsi Sultra.
Profil Kesehatan Kesehatan Sulawesi Tenggara, Kendari.2007
.
Laporan Pelacakan Kasus Gizi Buruk Provonsi Sulawesi Tenggara, Kendari.2009
Kamarullah. Identifikasi
Faktor-Faktor Sosial, Ekonomi dan Kesehatan Pada Ibu Hamil Kurang Energi Kronik
(KEK) di Daerah Pantai. Skripsi Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya
Keluarga, Fakultas Pertanaian IPB, Bogor.2008
Moehji, S. Ilmu Gizi, Penerbit Papas Sinar Sinanti,
Jakarta.2002
Nency, Y. Gizi Buruk
Ancaman Generasi yang Hilang, http://io.ppi-jepang.org/article.php?id=113,
5 November 2005.
Profil Puskesmas Mata
Kota Kendari, 2010
Quaria,
A, F, L. Faktor Resiko Kejadian Gizi Buruk pada Balita di Puskesmas
Alliritengae kecamatan Turikale Kabupaten Maros tahun 2008. Skripsi yang tidak
diterbitkan, Univesitas Hasanuddin, Makassar. 2008
Soekirman.
Dampak Pembangunan Terhadap Keadaan Gizi, Orasi Penerimaan Jabatan Guru Besar
Ilmu Gizi, Faperta, IPB, Bogor.2000
Soetjiningsih.
Tumbuh Kembang Anak, Penerbit EGC, Jakarta.2008
Suhardjo.
Sosio Budaya Gizi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.2005
Supariasa, N, Bakri, B,
Fajar, I. Penilaian Status Gizi, Penerbit EGC, Jakarta.2001
Yulianty. Faktor Resiko
Kejadian Gizi Buruk Pada Balita di Kecamatan Mandonga Kota Kendari tahun 2008.
Skripsi Unhalu, Kendari.2008
Boyd, K. P., A. Andea, et al.
(2012). "Acute Inpatient Presentation of Kwashiorkor: Not Just a Diagnosis
of the Developing World." Pediatr Dermatol 3(10): 1525-1470.
Creek, T. L., A. Kim, et al.
(2010). "Hospitalization and mortality among primarily nonbreastfed
children during a large outbreak of diarrhea and malnutrition in Botswana,
2006." J Acquir Immune Defic Syndr 53(1): 14-19.
Escoda, S., H. Chappuy, et
al. (2010). "An unusual cause of extensive edema." Pediatr Emerg
Care 26(5): 378-379.
Demonet, G. (2012).
"[Rice milk and risk of malnutrition]." Soins Pediatr Pueric 264:
8.
Diamanti, A., S. Pedicelli,
et al. Iatrogenic Kwashiorkor in three infants on a diet of rice beverages,
Pediatr Allergy Immunol. 2011 Dec;22(8):878-9. doi:
10.1111/j.1399-3038.2011.01180.x.
El-Hodhod, M. A., E. K. Emam,
et al. (2009). "Serum ghrelin in infants with protein-energy
malnutrition." Clin Nutr 28(2): 173-177.
Forrester, T. E., A. V.
Badaloo, et al. (2012). "Prenatal factors contribute to the emergence of
kwashiorkor or marasmus in severe undernutrition: evidence for the predictive
adaptation model." PLoS One 7(4): 30.
Galler, J. R., C. P. Bryce,
et al. (2010). "Early childhood malnutrition predicts depressive symptoms
at ages 11-17." J Child Psychol Psychiatry 51(7): 789-798
Grover, Z. and L. C. Ee
(2009). "Protein energy malnutrition." Pediatr Clin North Am 56(5):
1055-1068.
Hadju, Veni. Dasar-dasar
Gizi. FKM Unhas : 2003.
Kimutai, D., E. Maleche-Obimbo, et al. (2009). "Hypo-phosphataemia in
children under five years with kwashiorkor and marasmic kwashiorkor." East
Afr Med J 86(7)
Manary, M. J., G. T. Heikens,
et al. (2009). "Kwashiorkor: more hypothesis testing is needed to
understand the aetiology of oedema." Malawi Med J 21(3):
106-107.
Retno Sri Iswari dkk, Biokimia, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2006
Sediaoetama achmad djaeni. 2009. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan
Profesi. Jakarta: Dian Rakyat.
Sunita, Almatsier. 2009. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar